Oleh : Hariadi Talli
BARATIMUR.COM| GRESIK JATIM–Di sudut Kampung Blandongan Kulon, Jalan KH. Kholil, Gresik, ada sebuah rumah yang dindingnya tak hanya memisahkan ruang, tapi juga menjadi batas antara dunia nyata dan dunia yang terlahir kembali lewat sapuan kuas. Di sanalah tinggal Didik S. Hadi, pria berusia 54 tahun yang namanya sudah terukir kuat di jagat seni rupa Jawa Timur, bahkan dikenal luas di seluruh Indonesia.
Perjalanannya dengan warna dan kanvas bermula sejak tahun 2005. Saat kuas pertama kali menyentuh permukaan kain, ia menyadari bahwa lukisan bukan sekadar gambar ia adalah cara berbicara tanpa suara, cara menitipkan rasa yang tak terucap lewat kata-kata. Tak butuh waktu lama hingga karya-karyanya mulai dilirik. Ajang perlombaan se-Indonesia pun mulai sering ia datangi, membawa serta semangat belajar yang tak pernah padam.
Namun api ingin tahu tak berhenti di situ. Didik pun melangkahkan kaki menuju Pulau Dewata, Bali. Di sana, selama bertahun-tahun ia meresapi kedalaman seni, mempelajari aliran, merasakan irama kehidupan yang terpancar dari setiap goresan para maestro. Ia tak hanya mengasah keterampilan tangan, tapi juga mematangkan jiwa seniman dalam dirinya. Hingga saat tiba untuk pulang, ia membawa pulang bukan sekadar kemampuan lebih tajam, melainkan pandangan baru tentang bagaimana menghidupkan sebuah lukisan.
Kembali ke kampung halaman di Gresik, Didik kembali menempatkan kanvas di hadapannya. Dan di sinilah keajaiban terlihat setiap warna yang ia tuang tak sekadar menempel ia berdenyut. Orang yang melihat karyanya sering berkata seolah ada napas yang keluar dari kanvas pemandangan tampak seketika bergerak, raut wajah memancarkan perasaan seolah akan berbicara dalam sekejap mata.
Tak heran jika karya-karyanya sering mendapatkan tawaran harga yang lumayan tinggi. Bagi para penikmat seni, nilai itu bukan sekadar angka, melainkan pengakuan atas jiwa yang tertuang utuh di sana.
Kini, kesibukan tak pernah lepas dari hari-harinya. Pesanan lukisan datang silih berganti, namun ia tak pernah melupakan semangat untuk terus berjuang di kancah seni. Saat ini Didik S. Hadi sedang menyibukkan diri menyiapkan karya terbaiknya, yang sebentar lagi akan ia tampilkan dalam ajang perlombaan seni rupa se-Jawa Timur.
“Setiap goresan adalah langkah. Setiap warna adalah cerita,”ujarnya lembut sambil menatap kanvas yang belum selesai, namun sudah terlihat menyimpan kehidupan yang luar biasa.(*/)












