Oleh Hrd tl
MAKASSAR, BARATIMUR.COM–Di tengah hiruk-pikuk era digital, di mana pertemuan dan koordinasi sering kali cukup dilakukan melalui layar kaca, kehadiran fisik seorang pemimpin organisasi memiliki makna yang jauh lebih dalam. Perjalanan Ketua DPP AJUN, Haryadi Talli, ke berbagai penjuru nusantara belakangan ini termasuk saat menyambangi beberapa daerah dan provinsi diluar sulawesi hingga pelosok perbatasan Sumatera hingga ujung Timur Indonesia bukanlah sekadar agenda seremonial atau silaturahmi biasa.
Ini adalah sebuah ekspedisi ideologis untuk merajut kembali denyut nadi organisasi Pers. Setiap kilometer yang ditempuh oleh sang ketua menyimpan cerita tentang realitas anggota di daerah. Kita tahu, mengawal dan membesarkan organisasi di luar pusat kekuasaan bukanlah perkara mudah. Keterbatasan fasilitas, dinamika lokal, hingga tantangan zaman sering kali menjadi bayang-bayang. Dalam setiap dialognya, mulai dari ruang pertemuan formal hingga ngopi bersama anggota di daerah, tidak datang sebagai “petinggi” dari ibu kota yang berjarak. Ia hadir sebagai pendengar yang menyerap keluh kesah, memetakan masalah, sekaligus menggali potensi lokal yang selama ini tersembunyi.
Perjalanan blusukan ini secara tegas mengirimkan pesan bahwa “AJUN” bukanlah organisasi “menara gading”.Tantangan yang dihadapi organisasi dan anggotanya hari ini semakin kompleks. Disrupsi informasi, perubahan lanskap sosial, hingga tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi, menuntut adanya penguatan solidaritas. Di sinilah peran strategis dari perjalanan Ketua DPP AJUN menemukan relevansinya. Ia sedang melakukan “pemetaan” sekaligus “penguatan” benteng pertahanan organisasi.
Dengan turun langsung, ia memastikan bahwa program kerja, perlindungan, dan pemberdayaan anggota bukan sekadar wacana di atas kertas AD/ART, melainkan sebuah gerakan yang hidup dan terasa manfaatnya di tiap daerah.
Lebih dari itu, perjalanan ini adalah pesan simbolis bahwa AJUN hadir untuk semua. Jejak langkah sang ketua sedang membangun jembatan komunikasi yang kokoh antara pusat dan daerah. Ia sedang menabur benih regenerasi dan semangat inklusivitas, memastikan bahwa setiap suara dari daerah tidak hanya didengar, tetapi juga diakomodasi dalam kebijakan nasional organisasi.
Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa kepemimpinan yang sejati tidak diukur dari seberapa tinggi omongan seseorang didengar melainkan diakomodasi dalam kebijakan nasional dalam organisasi. (*/)













